Halaman

"ummmh..." Emoticon
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 November 2012

Perokok Adalah Serdadu Berani Mati






Para perokok adalah pejuang gagah berani.
Berada di dekat kawan-kawan saya perokok ini.
Saya serasa berdampingan dengan rombongan serdadu berani mati.
Veteran dua Perang Dunia, Perang Vietnam, Perang Revolusi
Dan Perang Melawan Diri Sendiri.

Perhatikanlah upacara mereka menyalakan belerang berapi.
Dengan khimadnya batang tembakau dihunus dan ditaruh antara dua jari.
Dengan hormatnya Tuhan Sembilan Senti.
Disisipkan antara dua bibir, digeser agak ke tepi.
Sementara itu sudah siap An Naar, nyala api sebagai sesaji.

Hirupan pertama dilaksanakan penuh kasih sayang dan hati-hati.
Kemudian dihembuskan asapnya, ke kanan atau ke kiri.
Mata pun terpicing-picing tampak nikmat sekali.
Berlindung pada adiksi dari tekanan hidup sehari-hari.
Lena kerja, lupa politik, mana ingat anak dan isteri.

Para perokok adalah serdadu-serdadu gagah berani.
Untuk kenikmatan 5 menit mereka tidak peduli 25 macam penyakit
yang dengan gembira menanti-menanti.
Saat untuk menerkam dari setiap penjuru dan sisi.

Paru-paru obstruksi kronik bronkhitis kronik dan emfisema.
Gangguan jantung pembulu darah arteriosklerosis hipertensi dan gangguan pembuluh
darah otak. Kanker rongga mulut, nasopharynx, oropharynx, hypopharynx dan
rongga hidung. Lalu sinus paranasal, larynx, esophagus dan lambung. Radang pankreas,
hati, ginjal, ureter dan kandung kemih. Radang cervix uteri dan sumsum tulang, infertilitas
dan impotensi. Daftar ini belum disusun secara alfabetis, dan sebenarnya (ini rahasia profesi medis)
penyakit yang 25 ini cuma nama samaran julukan pura-pura saja.

Nama aslinya penyakit rokok.

Rokok, abang kandung narkoba ini tak tertandingi dalam soal adiksi.
4000 macam racun didapatkan sepanjang sembilan senti. Untuk orgamus nikotin 5
menit itu serdadu tembakau ini mana peduli terhadap hari depan anak-anak
yang masih memerlukan pencarian rezeki.
Terhadap bagaimana telantarnya kelak janda yang dulu namanya isteri.
Atau nasib duda yang dulu namanya suami.
Terhadap pengotoran udara depan belakang, kanan dan kiri.
Dalam memuaskan ego, dengan sengaja mendestruksi diri pribadi.

Betapa beratnya memenangkan Perang Melawan Diri Sendiri.

Source

Rabu, 14 Desember 2011

Negara Islam Indonesia (NII)

Negara Islam Indonesia (disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI) yang artinya adalah "Rumah Islam" adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (ditulis sebagai 12 Syawal 1368 dalam kalender Hijriyah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Berkas:Iii.jpeg

Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja diproklamasikan kemerdekaannya dan ada di masa perang dengan tentara Kerajaan Belanda sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya bahwa "Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam", lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa "Negara berdasarkan Islam" dan "Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits". Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk membuat undang-undang yang berlandaskan syari'at Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur'an dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan "hukum kafir", sesuai dalam Qur'aan Surah 5. Al-Maidah, ayat 50.

Dalam perkembangannya, DI menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah), Sulawesi Selatan dan Aceh.

Setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada 1962, gerakan ini menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dianggap sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia.

Gerakan DI/TII Daud Beureueh

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/7b/Teuku_Daud_Beureueh.jpg

Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan "Proklamasi" Daud Beureueh bahwa Aceh merupakan bagian "Negara Islam Indonesia" di bawah pimpinan Imam Kartosuwirjo pada tanggal 20 September 1953.

Daued Beureueh pernah memegang jabatan sebagai "Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh" sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai Gubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer. Sebagai seorang tokoh ulama dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh tidak sulit memperoleh pengikut. Daud Beureuh juga berhasil memengaruhi pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Untuk beberapa waktu lamanya Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar daerah Aceh termasuk sejumlah kota.

Sesudah bantuan datang dari Sumatera Utara dan Sumatera Tengah, operasi pemulihan keamanan ABRI ( TNI-POLRI ) segera dimulai. Setelah didesak dari kota-kota besar, Daud Beureuh meneruskan perlawanannya di hutan-hutan. Penyelesaian terakhir Pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu " Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" pada bulan Desember 1962 atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel Jendral Makarawong.

Gerakan DI/TII Ibnu Hadjar

Berkas:Ihadjar.jpg

Pada bulan Oktober 1950 DI/ TII juga tercatat melakukan pemberontakan di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Ibnu Hadjar. Para pemberontak melakukan pengacauan dengan menyerang pos-pos kesatuan ABRI (TNI-POLRI). Dalam menghadapi gerombolan DI/TII tersebut pemerintah pada mulanya melakukan pendekatan kepada Ibnu Hadjar dengan diberi kesempatan untuk menyerah, dan akan diterima menjadi anggota ABRI. Ibnu Hadjar sempat menyerah, akan tetapi setelah menyerah dia kembali melarikan diri dan melakukan pemberontakan lagi sehingga pemerintah akhirnya menugaskan pasukan ABRI (TNI-POLRI) untuk menangkap Ibnu Hadjar. Pada akhir tahun 1959 Ibnu Hadjar beserta seluruh anggota gerombolannya tertangkap dan dihukum mati.

Gerakan DI/TII Amir Fatah

Berkas:Amir fatah copy.jpg

Amir Fatah merupakan tokoh yang membidani lahirnya DI/TII Jawa Tengah. Semula ia bersikap setia pada RI, namun kemudian sikapnya berubah dengan mendukung Gerakan DI/TII. Perubahan sikap tersebut disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, terdapat persamaan ideologi antara Amir Fatah dengan S.M. Kartosuwirjo, yaitu keduanya menjadi pendukung setia Ideologi Islam. Kedua, Amir Fatah dan para pendukungnya menganggap bahwa aparatur Pemerintah RI dan TNI yang bertugas di daerah Tegal-Brebes telah terpengaruh oleh "orang-orang Kiri", dan mengganggu perjuangan umat Islam. Ketiga, adanya pengaruh "orang-orang Kiri" tersebut, Pemerintah RI dan TNI tidak menghargai perjuangan Amir Fatah dan para pendukungnya selama itu di daerah Tegal-Brebes. Bahkan kekuasaan yang telah dibinanya sebelum Agresi Militer II, harus diserahkan kepda TNI di bawah Wongsoatmojo. Keempat, adanya perintah penangkapan dirinya oleh Mayor Wongsoatmojo. Hingga kini Amir Fatah dinilai sebagai pembelot baik oleh negara RI maupun umat muslim Indonesia.

Gerakan DI/TII Kahar Muzakkar

Berkas:Akmuzakkar.jpg

Pemerintah berencana membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakkar menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan delam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak di antara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakkar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakkar mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953. Tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakkar tertembak mati oleh pasukan ABRI (TNI-POLRI) dalam sebuah baku tembak.

Referensi

1. ^ Robert Cribb. 2000. Historical Atlas of Indonesia. Halaman 162.

2. ^ http://www.crisisgroup.org/home/index.cfm?id=3280&l=1

3. ^ http://jamestown.org/terrorism/news/article.php?articleid=2370020

Selasa, 04 Oktober 2011

Cerita Kentang Busuk

Kisah diawali dari sebuah padepokan Budi Pekerti. Guru Bijaksana menutup pelajaran hari itu dengan sebuah pertanyaan empiris. “Murid-muridku, hidup ini ibarat pelangi. Ibarat permen nano-nano. Ada rasa cinta, ada rasa benci . Nah, siapa yang punya rasa cinta?” Tanya Guru
Bijaksana. Semua murid mengacungkan telunjuk. Beberapa sembari tersipu malu. Guru Bijaksana tersenyum. “Bagus… bagus. Siapa yang punya rasa benci saat ini?”
Tanya Guru lagi. Sepi. Murid- murid saling pandang. Satu demi satu mereka mengangkat telunjuk. “Bagus… bagus. Tidak apa. Itu wajar terjadi pada setiap manusia.” Ujar Guru. Telunjuk
yang teracung semakin banyak. Kalimat Guru Bijaksana yang mendorongnya.“Bagus.
Kejujuran sangat penting, terutama jujur terhadap diri sendiri. Benci, cinta, marah, kesal, semua perlu kita rasakan agar kita bisa memaknai hidup dengan seutuhnya.” Ujar sang Guru.
“Nah, anak-anakku tercinta. Guru ingin kalian mengumpulkan kentang sejumlah orang yang kalian tidak sukai, dalam satu kantong plastik. Bawalah besok. Kentang yang ukuran sedang, ya. Beli juga tak apa.” Para murid saling menatap, heran. Kentang? Untuk apa? “Eng… untuk apa, Guru? Kita hendak demo masak?” celetuk seorang murid. Guru Bijaksana tersenyum menggeleng.
“Kalian akan tahu jawabannya besok. Ingat, kentang sejumlah orang yang
kalian benci , iri, dendam , pokoknya kalian mempunyai perasaan negative pada
mereka.” Murid-murid padepokan Budi Pekerti adalah murid yang patuh, karena guru mereka benar-benar sosok yang bisa “diguru dan ditiru”.
Mengajarkan nilai lewat perbuatan, contoh dan teladan, bukan sekedar
retorika dibalut kemunafikan.
Semua membawa kentang sejumlah orang yang mereka tidak sukai. Ada yang membawa 2 kentang, 5 kentang, bahkan ada yang nampak penuh kantong plastiknya. Berat. Guru Bijaksana tersenyum. Yah, tak ada manusia yang lepas dari perasaan buruk. “Bagus… bagus. Guru akan jelaskan, mengapa kalian harus membawa kentang itu. Kentang itu akan menjadi bagian tak terpisahkan, mulai saat ini. Kalian harus membawanya, kemana pun kalian pergi. Makan, tidur, belajar, bergurau, bahkan ke kamar mandi. Bawalah terus, hingga Guru perintahkan menyudahi.” Mulut murid-murid Padepokan Budi Pekerti serempak membuka.
“Kemana saja? Membawa kentang? Tapi… itu sangat merepotkan, Guru!” seorang murid protes. Kentang yang ia bawa 10 buah, besar-besar lagi. Semula ia ingin pamer, kentangnyalah yang terbanyak dan terbaik. Huuuh, kalau tahu begini… “Anak-anakku, lakukanlah
apa yang Guru perintahkan. Jalani. Nanti, kalian akan lebih mudah menerima pelajaran yang akan Guru sampaikankan, terkait dengan kentang itu.”
“Ya… tapi sampai kapan, Guru?” seorang anak lain terlihat enggan. “Sampai Guru menyuruh berhenti.” Jelas Guru Bijaksana dengan senyum dikulum. Begitulah. Semua murid
melaksanakan perintah Guru Bijaksana. Ada yang patuh dengan sukarela, tetapi
banyak yang bersungut- sungut tak suka. Bagi yang sukarela, tentu saja ia berusaha enteng saja membawa kentang kemana- mana. Bagi yang terpaksa, kentang itu benar-benar merepotkan dan menyebalkan, makin berat saja terasa. Bahkan, menjadi semakin berat karena satu kentang harus dimasukkan lagi. Kentang atas nama kesal terhadap Guru Bijaksana. Hari demi hari lewat. Kentang mulai membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap.
Beberapa murid mulai terpikir untuk membuang saja benda itu, tetapi nasehat dan ilmu sang guru menghalangi niatan tersebut. Beberapa berharap Guru Bijaksana segera menghentikan “penyiksaan”, apalagi saat pelajaran Guru Bijaksana dengan jelas bisa melihat kentang-kentang yang murid-muridnya bawa, dan mulai menebar aroma.
Beberapa hari lewat lagi. Kentang benar-benar telah busuk. Lembek. Bau. Hitam berhias jamur putih. Plastik pembungkusnya telah berganti warna, kecoklatan dengan rembesan air menjijikkan. Murid-murid sudah tidak tahan, terutama yang mempunyai koleksi kentang cukup banyak.
Beberapa bahkan telah membuang kentang-kentang itu, diam-diam. Guru Bijaksana tahu apa yang terjadi, dan menanyakan keadaan kentang-kentang itu
di suatu pagi, saat berlangsung pelajaran budi pekerti. “Anak-anakku, bagaimana kabar kentang kalian?” Tanya Guru ramah.
“Busuk! Bau! Menjijikkan!” teriakan lantang terdengar.
“Merepotkan! Memberatkan!” timpal yang lain. “Sudah saya buang, Guru!
Saya benar-benar tak tahan!” sambung lainnya lagi.
Berbagai komentar negative segera saja memenuhi udara ruang pengajaran. Guru Bijaksana tersenyum, mengangguk-angguk. “Jadi, tak seorang pun menyukai kentang itu?”
Tanya Guru. Semua mengangguk.
“Semua sepakat membuangnya?” kembali Guru Bijaksana bertanya.
Murid-murid sama mengiyakan. Guru Bijaksana pun memerintahkan semua kentang dikumplkan dan dibuang jauh-jauh melewati halaman padepokan. “Nah, anak-anakku. Rasa benci, iri, dengki, dendam dan apa pun perasaan negative kita terhadap orang lain, ibarat kentang tadi. Tak ada manfaat kita dapatkan. Kita merasa sesak, sempit, repot, berat dan terbebani. Semakin banyak orang yang kita tidak sukai, semakin berat beban jiwa kita. Andai kita bisa membuang semua rasa buruk itu, seperti kita membuang kentang-kentang, niscaya hidup kita lebih menyenangkan. Tak ada yang rugi saat kita banyak mengidap perasaan dengki, benci, dendam dll, selain diri kita sendiri. Tak ada yang beruntung saat kita membuang perasaan buruk kita, selain diri kita sendiri. Mulailah
membuang kentang- kentang itu, anakku.” Semua murid terpekur.
Kentang busuk. Perasaan busuk. Buang.

Rabu, 21 September 2011

KISAH TELOR DAN EMPING GOSONG

Dua puluh tahun telah berlalu, namun masih terbayang jelas kenangan indah itu:
Suatu malam, ibu yg bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah yang sangat sederhana berupa telur mata sapi, kerupuk emping, sambal teri dan nasi. Sayangnya karena mengurusi adik yg merengek, emping dan telor gorengnya sedikit gosong!
Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis. Kami menunggu dengan tegang apa reaksi ayah yang pulang kerja, pasti sudah capek melihat makan malamnya hanya emping dan telur gosong. Luar biasa ! Ayah dengan tenang menikmati dan memakan
semua yang disiapkan ibu dengan tersenyum, dan bahkan berkata, "Bu terima kasih ya!"
Lalu ayah terus menanyakan kegiatan saya & adik di sekolah. Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar mama meminta maaf krn telor & emping yang gosong itu & satu hal yg tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan: "Sayang, aku suka telor & emping yg gosong."
Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada ayah, saya bertanya "apakah ayah benar-benar menyukai telur & emping gosong?" Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya yg kekar & berkata, "Anakku, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari & dia benar-benar sudah capek,
Jadi sepotong telor & emping yg gosong tdk akan menyakiti siapa pun kok!"

Ini pelajaran yang saya
praktekkan di tahun-tahun
berikutnya;
"Belajar menerima kesalahan orang lain, adalah satu kunci yang
sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh & abadi. Ingatlah emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada & selalulah berpikir dewasa mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasannya sendri... Janganlah kita menjadi orang yg egois hanya mau dimengerti, tapi tidak mau mengerti :)

Tua itu pasti, tapi Dewasa itu
PILIHAN, & Manusia yg
dewasa adalah manusia
PILIHAN.

nikiDUA®

ENJOY YG MENJATUHKAN

Seekor monyet sedang
nangkring di pucuk pohon
kelapa. Dia nggak sadar sedang diintip oleh tiga angin gede.. Angin Topan, Tornado n Bahorok. Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.
Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik. Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik, katanya. Angin Bahorok senyum
ngeledek dan bilang, 15 detik juga jatuh tuh monyet.
Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju. Angin TOPAN duluan, dia tiup sekenceng-kencengnya, Wuuusss… Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatnya.
Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah. Giliran Angin TORNADO. Wuuusss… Wuuusss… Dia tiup sekenceng-kencengnya. Nggak jatuh juga tuh monyet. Angin Tornado jg nyerah. Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kenceng lagi dia tiup. Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss…
Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh juga. Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan.
Tangguh. Daya tahannya luar biasa.
Ngga lama, datang angin Enjoy-Enjoy.
Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Keinginan îτϋ diketawain oleh tiga angin lainnya. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil. Nggak banyak omong, angin Enjoy-Enjoy langsung niup ubun-ubun si monyet. Psssss… Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia trus lepaslah pegangannya. Alhasil, jatuh deh tuh si monyet.
Guys, boleh jadi ketika kita Diuji dengan KESUSAHAN… Dicoba dengan Penderitaan…
Didera Malapetaka...
Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya...
Tapi jika kita diuji dengan KENIKMATAN...
KESENANGAN...
KELIMPAHAN...
Di sinilah kejatuhan îτϋ terjadi..
So, Jangan sampai kita terlena...
Tetap rendah hati dan mawas diri, ingat semua itu hanya titipan dari Tuhan selama kita di dunia..
Karena Kita Bukan Monyet !!

nikiDUA®