"ummmh..." Emoticon

Jumat, 16 Desember 2011

Kingdom Hearts

Utada Hikaru - Simple and Clean

When you walk away
You don't hear me say please
Oh baby, don't go
Simple and clean is the way that you're making me feel tonight
It's hard to let it go

You're giving me too many things
Lately you're all I need
You smiled at me and said,

Don't get me wrong I love you
But does that mean I have to meet your father?
When we are older you'll understand
What I meant when I said "No,
I don't think life is quite that simple"

When you walk away
You don't hear me say please
Oh baby, don't go
Simple and clean is the way that you're making me feel tonight
It's hard to let it go

The daily things
that keep us all busy
all confusing me thats when u came to me and said,

Wish i could prove i love you
but does that mean i have to walk on water?
When we are older you'll understand
It's enough when i say so,
And maybe somethings are that simple

When you walk away
You don't hear me say please
Oh baby, don't go
Simple and clean is the way that you're making me feel tonight
It's hard to let it go

Hold me
Whatever lies beyond this morning
Is a little later on
Regardless of warnings the future doesn't scare me at all
Nothing's like before

When you walk away
You don't hear me say please
Oh baby, don't go
Simple and clean is the way that you're making me feel tonight
It's hard to let it go

Hold me
Whatever lies beyond this morning
Is a little later on
Regardless of warnings the future doesn't scare me at all
Nothing's like before

Hold me
Whatever lies beyond this morning
Is a little later on
Regardless of warnings the future doesn't scare me at all
Nothing's like before

Utada Hikaru -Sanctuary

wonk uoy naht noitceffa erom deen I
In you and I there's a new land
Angel's in flight
wonk uoy naht noitceffa erom deen I
My sanctuary, my sanctuary, yeah
Where fears and lies melt away
Music inside
wonk uoy naht noitceffa erom deen I
What's left of me what's left of me now

I watch you fast asleep
All I fear means nothing

In you and I there's a new land
Angels in flight
wonk uoy naht noitceffa erom deen I
My sanctuary my sanctuary yeah
Where fears and lies melt away
Music inside
wonk uoy naht noitceffa erom deen I
What's left of me what's left of me

snwod dna spu ynam os
My heart's a battleground
snoitome eurt deen I
wonk uoy naht noitceffa erom deen I
snoitome eurt deen I

You show me how to see
That nothing is whole and nothing is broken

In you and I there's a new land
Angel's in flight
wonk uoy naht noitceffa erom deen I
My sanctuary my sanctuary yeah
Where fears and lies melt away
Music inside
wonk uoy naht noitceffa erom deen I
What's left of me what's left of me now

My fears and lies
Melt away
wonk uoy naht noitceffa erom deen I

Rabu, 14 Desember 2011

Negara Islam Indonesia (NII)

Negara Islam Indonesia (disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI) yang artinya adalah "Rumah Islam" adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (ditulis sebagai 12 Syawal 1368 dalam kalender Hijriyah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Berkas:Iii.jpeg

Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja diproklamasikan kemerdekaannya dan ada di masa perang dengan tentara Kerajaan Belanda sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya bahwa "Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam", lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa "Negara berdasarkan Islam" dan "Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits". Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk membuat undang-undang yang berlandaskan syari'at Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur'an dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan "hukum kafir", sesuai dalam Qur'aan Surah 5. Al-Maidah, ayat 50.

Dalam perkembangannya, DI menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah), Sulawesi Selatan dan Aceh.

Setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada 1962, gerakan ini menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dianggap sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia.

Gerakan DI/TII Daud Beureueh

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/7b/Teuku_Daud_Beureueh.jpg

Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan "Proklamasi" Daud Beureueh bahwa Aceh merupakan bagian "Negara Islam Indonesia" di bawah pimpinan Imam Kartosuwirjo pada tanggal 20 September 1953.

Daued Beureueh pernah memegang jabatan sebagai "Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh" sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai Gubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer. Sebagai seorang tokoh ulama dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh tidak sulit memperoleh pengikut. Daud Beureuh juga berhasil memengaruhi pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Untuk beberapa waktu lamanya Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar daerah Aceh termasuk sejumlah kota.

Sesudah bantuan datang dari Sumatera Utara dan Sumatera Tengah, operasi pemulihan keamanan ABRI ( TNI-POLRI ) segera dimulai. Setelah didesak dari kota-kota besar, Daud Beureuh meneruskan perlawanannya di hutan-hutan. Penyelesaian terakhir Pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu " Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" pada bulan Desember 1962 atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel Jendral Makarawong.

Gerakan DI/TII Ibnu Hadjar

Berkas:Ihadjar.jpg

Pada bulan Oktober 1950 DI/ TII juga tercatat melakukan pemberontakan di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Ibnu Hadjar. Para pemberontak melakukan pengacauan dengan menyerang pos-pos kesatuan ABRI (TNI-POLRI). Dalam menghadapi gerombolan DI/TII tersebut pemerintah pada mulanya melakukan pendekatan kepada Ibnu Hadjar dengan diberi kesempatan untuk menyerah, dan akan diterima menjadi anggota ABRI. Ibnu Hadjar sempat menyerah, akan tetapi setelah menyerah dia kembali melarikan diri dan melakukan pemberontakan lagi sehingga pemerintah akhirnya menugaskan pasukan ABRI (TNI-POLRI) untuk menangkap Ibnu Hadjar. Pada akhir tahun 1959 Ibnu Hadjar beserta seluruh anggota gerombolannya tertangkap dan dihukum mati.

Gerakan DI/TII Amir Fatah

Berkas:Amir fatah copy.jpg

Amir Fatah merupakan tokoh yang membidani lahirnya DI/TII Jawa Tengah. Semula ia bersikap setia pada RI, namun kemudian sikapnya berubah dengan mendukung Gerakan DI/TII. Perubahan sikap tersebut disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, terdapat persamaan ideologi antara Amir Fatah dengan S.M. Kartosuwirjo, yaitu keduanya menjadi pendukung setia Ideologi Islam. Kedua, Amir Fatah dan para pendukungnya menganggap bahwa aparatur Pemerintah RI dan TNI yang bertugas di daerah Tegal-Brebes telah terpengaruh oleh "orang-orang Kiri", dan mengganggu perjuangan umat Islam. Ketiga, adanya pengaruh "orang-orang Kiri" tersebut, Pemerintah RI dan TNI tidak menghargai perjuangan Amir Fatah dan para pendukungnya selama itu di daerah Tegal-Brebes. Bahkan kekuasaan yang telah dibinanya sebelum Agresi Militer II, harus diserahkan kepda TNI di bawah Wongsoatmojo. Keempat, adanya perintah penangkapan dirinya oleh Mayor Wongsoatmojo. Hingga kini Amir Fatah dinilai sebagai pembelot baik oleh negara RI maupun umat muslim Indonesia.

Gerakan DI/TII Kahar Muzakkar

Berkas:Akmuzakkar.jpg

Pemerintah berencana membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakkar menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan delam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak di antara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakkar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakkar mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953. Tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakkar tertembak mati oleh pasukan ABRI (TNI-POLRI) dalam sebuah baku tembak.

Referensi

1. ^ Robert Cribb. 2000. Historical Atlas of Indonesia. Halaman 162.

2. ^ http://www.crisisgroup.org/home/index.cfm?id=3280&l=1

3. ^ http://jamestown.org/terrorism/news/article.php?articleid=2370020

Selasa, 08 November 2011

Sampah Antariksa

NASA mengeluarkan peringatan kepada penduduk bumi agar waspada karena satelit The Upper Atmosphere Research Satellite (UARS) yang sudah mati akan jatuh ke bumi dalam enam minggu ke depan ini. Tetapi NASA tidak bisa memastikan dengan tepat tanggal jatuhnya satelit ini.

UARS adalah satelit yang diluncurkan pada 15 September 1991 oleh pesawat luar angkasa Discovery dan diperkirakan masuk bumi pada akhir bulan ini atau awal Oktober mendatang. Satelit ini sudah tidak berfungsi sejak 14 Desember 2005 dan pada dasarnya didesain untuk misi selama tiga tahun.

Satelit ini memiliki panjang 11 meter dan diameter mencapai 4,5 meter. Meski satelit ini akan menjadi potongan-potongan terpisah saat masuk ke bumi, tidak semua bagian terbakar di atmosfer. UARS mengandung senyawa kimia. UARS diprediksi akan jatuh antara Kanad dan Amerika Selatan.

Risiko menyangkut keselamatan publik dan beberapa bangunan yang mungkin terkena reruntuhan dari UARS sangat tinggi. NASA mengimbau agar pihak-pihak yang menemukan potongan satelit dari ruang angkasa ini menghindar. Semua pihak pun diminta proaktif melaporkan kepada yang berwajib jika menemukan potongannya.

UARS mengorbit 155 sampai 280 kilometer dengan kemiringan 57 derajat ke arah khatulistiwa. NASA memperkirakan bangkai satelit ini akan mendarat pada suatu tempat antara 57 derajat khatulistiwa ke arah selatan dan 57 derajat ke arah utara. Apabila benda ini tidak terbakar di atmosfer, akan menimbulkan kerusakan dan kehancuran yang sangat parah terhadap beberapa bangunan di bumi.

Sampah Antariksa

Sejak tahun 1957 terdapat 6.000 satelit diluncurkan ke ruang angkasa dan 3338 satelit masih beroperasi dan tidak aktif lagi. Sebanyak 1820 badan roket yang tidak berfungsi lagi dan 7789 serpihan logam mengitari Bumi. Tabrakan antar satelit dan roket-lah penyumbang terbesar sampah antariksa. Pecahan yang terbentuk dikelompokkan dalam berbagai ukuran yaitu lebih kecil dari 0,1 mm, antara 0,1 mm – 1 cm dan antara 1 – 10 cm. Ukuran yang kecil tersebut tidak bisa dideteksi oleh radar dan jumlahnya mencapai puluhan juta.

Berdasarkan ketinggian orbit, wahana antariksa pengorbit Bumi (satelit buatan) dikelompokkan menjadi 4 yaitu dibawah ketinggian 5.500 km atau orbit rendah (Low Earth Orbit / LEO). Bila satelit di orbit ini habis masa pakainya atau mengalami kerusakan maka akan segera jatuh ke Bumi atau terbakar dan pecah akibat bergesekan dengan atmosfer. Hingga kini, bobot total wahana antariksa di LEO lebih dari 2.000 ton. Dan sebagian besar adalah sampah. Prosentase satelit aktif hanya 5 %. Namun, jumlah sampah antariksa terus meningkat.

Orbit menengah (Medium Earth Orbit / MEO) adalah benda pada rentang ketinggian 5.500 – 36.000 km. Jenis ketiga adalah orbit geosinkron (Geosynchronous Earth Orbit / GEO) pada ketinggian 36.000 km. Satelit di orbit ini memiliki periode orbit sama dengan periode rotasi Bumi yaitu 24 jam. Dan bisa berada pada titik stasioner bila kemiringan terhadap ekuator (dinamakan sudut inklinasi) sebesar 0 derajat. Karenanya dinamakan Orbit Geosationer (GSO). GEO merupakan lokasi istimewa penempatan satelit dikarenakan kestabilan posisi satelit dengan sedikit bahan baker sehingga menjadi rebutan banyak negara untuk menempatkan satelitnya.
Antariksa Indonesia yang berada di khatulistiwa merupakan GEO. Hal ini patut disyukuri. Namun disini lain, patut diwaspadai kemungkinan jatuhnya sampah di wilayah khatulistiwa.Jenis keempat adalah orbit transfer yaitu orbit yang mengantarkan satelit dari LEO ke GEO atau orbit nontransfer sangat lonjong yang menjelajahi dari LEO sampai GEO. Bila satelit di orbit MEO atau GEO telah habis masa tugasnya dan menjadi sampah maka akan melayang, dan terus turun ke orbit rendah selanjutnya masuk ke atmosfer.

Sampai akhir abad 20 benda antariksa buatan manusia di orbit rendah atau ketinggian kurang dari 2000 km mencapai sekitar 2.000 ton. Sebagian besar berupa ribuan roket bekas dan satelit bekas. Namun, jumlah yang dapat dideteksi oleh jaringan radar ukuran lebih dari 10 cm hanya sekitar 9.000 objek. Sampai April 2003 jumlah yang terdeteksi radar mencapai 9.067. Namun pada akhir Maret 2004 tercatat 9.237 benda antariksa yang mengorbit bumi, meningkat sekitar 2% pertahun. Dari jumlah itu, sekitar 95% dapat digolongkan sebagai sampah antariksa. Satelit aktif hanya sekitar 5%.
Objek-objek tersebut mengorbit bumi sambil saling berpapasan dengan kecepatan relatif rata-rata 10 km/detik (36.000 km/jam). Sekali bertabrakan, akan hancur menjadi kepingan yang lebih kecil. Satelit pecah atau meledak juga menjadi sumber sampah antariksa kecil. Pada tahun 1960-an jumlah satelit pecah hanya sekitar 1 satelit per tahun. Tetapi sejak 1980-an rata-rata ada 5 satelit pecah per tahun. Sebuah roket pecah bisa menghasilkan lebih dari 200 potong sampah. Tidak heran bila jumlahnya makin bertambah dan makin membahayakan wahana antariksa. Pecahan-pecahan sangat kecil (kurang dari 10 cm) yang membahayakan satelit aktif jumlahnya tidak terhitung (diperkirakan lebih dari 35 juta potongan) karena tidak terdeteksi oleh jaringan radar saat ini.

Untuk mengkajinya, beberapa satelit sengaja dibiarkan terpapar oleh sampah antariksa halus yang mengenainya. Misalnya satelit Solar Max, LDEF (the Long Duration Exposure Facility, satelit khusus untuk menerima tumbukan jangka panjang), Eureca (European Retrievable Carrier), dan teleskop antariksa Hubble. Jumlah tumbukan dan ukurannya kemudian diteliti. Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah dan kecepatan sampah antariksa berukuran kecil ini cukup siginifikan dan bisa membahayakan pesawat antariksa.
Sampah antariksa berukuran sangat kecil (kurang dari 0,1 mm) jumlahnya makin banyak. Walau pun bahayanya tidak langsung, namun untuk jangka panjang sampah halus ini berdampak negatif bagi satelit aktif. Sampah berukuran 0,01 – 1 cm berdampak serius, terutama pada bagian bagian yang sensitif. Sampah yang paling berbahaya adalah yang berukuran lebih dari 1 cm yang langsung dapat merusakkan satelit. Namun sampai saat ini baru ada satu kasus tertabraknya satelit oleh sampah antariksa besar yang kerusakannya cukup serius, yaitu satelit mikro.
Kasus kerusakan lainnya dialami pesawat ulang alik Chalenger 1983 yang kaca pelindungnya harus diganti gara-gara ada serpihan cat yang menabraknya. Ukurannya memang kecil, hanya 0,3 mm, tetapi kecepatannya diperkirakan sangat tinggi, sekitar 14.000 km/jam. Antena teleskop antariksa Hubble juga mengalami kerusakan akibat tumbukan sampah antariksa hingga menimbulkan lubang berukuran 1,9 cm x 1,7 cm.

Masalah sampah antariksa bukan saja mengkhawatirkan bagi keselamatan wahana antariksa, tetapi juga kemungkinannya untuk jatuh ke permukaan bumi. Semakin rendah posisi orbit satelit atau sampah antariksa, semakin cepat akan jatuh ke permukaan bumi. Satelit GEO bisa bertahan berjuta-juta tahun. Satelit pada orbit 400 – 900 km mungkin bisa bertahan beberapa tahun sampai ratusan tahun, tergantung ukuran satelit. Sedangkan untuk orbit kurang dari 400 km hanya bertahan beberapa bulan saja. Pada ketinggian kurang dari 200 km waktu jatuh hanya dalam hitungan beberapa puluh jam. Bentuk orbit juga berpengaruh. Orbit lingkaran lebih mampu bertahan lama dari pada orbit elips.
Masa hidup atau lamanya satelit atau sampah antariksa bertahan di orbitnya sangat tergantung pada hambatan atmosfer. Semakin rendah ketinggian satelit hambatan atmosfer semakin besar karena semakin rapat. Kerapatan atmosfer juga dipengaruhi oleh aktivitas matahari. Peningkatan aktivitas matahari dapat menyebabkan kerapatan atmosfer meningkat dan hambatan terhadap satelit juga meningkat.
Pada saat aktivitas matahari lemah, satelit atau sampah antariksa pada ketinggian 600 km dapat bertahan puluhan tahun. Namun, pada saat matahari aktif satelit atau sampah antariksa tersebut hanya mampu bertahan sekitar 1 tahun. Itulah sebabnya pada saat matahari aktif, sekitar 1979 – 1981, 1989 – 1991, dan 2000 posisi satelit harus selalu dikontrol. Prakiraan aktivitas matahari juga penting untuk menentukan masa hidup satelit. Jatuhnya Skylab tahun 1979 sangat dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas matahari yang melebihi perkiraan semula.
Masa hidup satelit GEO/GSO bergantung pada bahan bakar pengendalinya agar tetap berada pada posisi operasionalnya. Efek gravitasi bumi, bulan, dan matahari menyebabkan satelit GEO berpindah tempat. Agar tetap berfungsi, maka satelit tersebut harus dijaga posisinya dengan roket kendali. Tetapi satelit pada ketinggian sekitar 36.000 tersebut tidak mungkin jatuh. Bila tidak berfungsi lagi satelit atau sampah antariksa tetap mengorbit membentuk angka delapan di sekitar titik ekuator.

Bahaya

Satelit atau sampah antariksa jatuh ke bumi akan semakin banyak dengan makin bertambahnya populasi antariksa oleh wahana buatan manusia. Pertambahan juga dipacu oleh saling bertabrakan antar-sampah antariksa tersebut. Data pantauan jaringan radar menunjukkan, rata-rata setiap 2 – 3 hari ada bekas satelit, roket, atau sampah antariksa lainnya yang jatuh ke bumi. Benda berukuran besar, berbobot beberapa puluh ton rata-rata 2 pekan sekali ada yang jatuh.
Masalah yang menjadi perhatian utama adalah lokasi jatuh dan waktunya. Lokasi jatuh terkait erat dengan lintasan orbitnya. Mir yang jatuh Maret 2001 orbitnya mempunyai inklinasi 51,6 derajat, berpeluang jatuh di wilayah antara 51,6 derajat lintang utara (LU) – 51,6 derajat lintang selatan (LS). Sehingga dapat mengancam 80 negara yang mungkin dilewatinya. BeppoSAX yang jatuh 30 April 2003 orbitnya mempunyai inklinasi 4 derajat, sehingga mengancam 39 negara di sabuk ekuator.
Potensi bahaya terutama ditujukan bagi satelit-satelit aktif dan misi pelucuran wahana antariksa. Sampah yang berukuran lebih kecil dari 1 cm namun memiliki kecepatan sangat tinggi sehingga dapat merusak pesawat ulang alik dan satelit. Bahaya lainnya adalah jatuhnya sampah antariksa ke Bumi meskipun probabilitas menimpa manusia sangatlah kecil. Semakin rendah kedudukan sampah antariksa akan semakin cepat jatuh akibat hambatan atmosfer Bumi kian besar. Peningkatan aktifitas Matahari turut meningkatkan kerapatan atmosfer yang membawa konsekuensi makin banyaknya sampah antariksa yang jatuh.
Untuk sampah berukuran lebih kecil dari 10 cm dan berbobot beberapa gram saja tentu tidak masalah. Yang mengkuatirkan untuk sampah yang berbobot hingga ratusan kg. Contohnya adalah Satelit BeppoSAX milik Italia yang jatuh di Lautan Pasifik pada 30 September 2003 lalu setelah melintasi wilayah Indonesia. Sebulan setelah BeppoSAX, roket CZ-3 (Chang Cheng/Long March 3) milik China menghantam tanah di Kebun Karet, Desa Bukit Harapan IV, Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara pada 13 Oktober 2003. Menimbulkan getaran cukup keras meskipun tidak ada korban. Inilah peristiwa yang pertama kali terjadi dalam sejarah teknologi ruang angkasa, tabrakan dua satelit di ketinggian 790 km!
Setiap satelit atau sampah antariksa orbitnya pasti melewati ekuator, sehingga peluang jatuh di daerah ekuator sangat besar. Indonesia yang merupakan negara ekuator terbesar sangat potensial kejatuhan satelit atau sampah antariksa. Namun, jangan cemas dahulu. Perbandingan luasnya daerah jelajah dengan ukuran satelit atau sampah antariksa sangat jauh, sehingga kemungkinan untuk membahayakan manusia atau barang milik manusia sangat kecil. Kemungkinan seorang manusia terkena benda jatuh dari antariksa 1:1.000.000.000.000. Sedangkan kemungkinan ada pesawat terbang yang terkena 1:10.000.000. Selama perkembangan teknologi antariksa memang belum ada laporan orang atau barang yang terkena benda jatuh dari antariksa. Bila terkena, tentu dampaknya sangat hebat. Benda jatuh dari antariksa mempunyai kecepatan sampai puluhan atau ratusan km/jam. Bobotnya pun bervariasi, bisa mencapai puluhan kilogram. BeppoSAX yang jatuh beberapa waktu lalu, pecahan terbesar berbobot 120 kg. Untungnya, puing-puingnya akhirnya jatuh di lautan Pasifik, sebelah barat daya Ekuador, Amerika Selatan.
Diberitakan pada tengah malam 10 Februari lalu, satelit komunikasi Iridium 33 dengan berat 560 kg milik Amerika Serikat yang melayani telepon satelit menabrak satelit yang sudah tidak terpakai milik Rusia, Cosmos 2251 dengan berat 900 kg. Versi lain menyebutkan bahwa satelit Rusia-lah penyebab tabrakan. Dikarenakan, Cosmos 2251 yang diluncurkan pada 1993, hanyalah seonggok besi tanpa “tuan” yang bergerak tanpa kendali, menabrak apa saja di depannya, termasuk Iridium 33 . Setelahnya, ribuan keping satelit terbentuk, dan menyebar, menambah jumlah sampah di orbit Bumi. Kejadian di atas merupakan peristiwa terburuk dari sisi besaran pecahan satelit setelah dihancurkannya secara sengaja satelit pemantai iklim milik China yang tidak berfungsi lagi pada 2007. Waktu itu tidak kurang 2,500 keping sampah terbentuk, dan mengorbit Bumi.

Membersihkan Sampah Antriksa

Banyak negara terus memantau keberadaan sampah dan memetakannya. Apalagi kian hari semakin banyak satelit diluncurkan. Maka kian bertambahlah populasi sampah. Hanya saja, lokasi jatuhnya sampah sulit ditentukan secara pasti. Upaya pencegahan dilakukan dengan beberapa rencana seperti membersihkan sampah dengan mengirimkan misi untuk memulung sampah, menghancurkan sampah sehingga menjadi serpihan kecil yang tidak berbahaya, membuang sampah pada “daerah sampah“ baik untuk orbit rendah maupun orbit tinggi sehingga ketika jatuh tidak menimpa wilayah yang berpenghuni serta merancang wahana antariksa dengan bahan bakar dan kandungan material yang tidak berbahaya. Yang lebih penting adalah adanya kode etik terutama bagi Negara-negara kontributor satelit sehubungan kegiatan sipil dan militer di luar angkasa seperti menghindari tindakan-tindakan sengaja yang dapat atau akan merusak dan menghancurkan benda-benda yang mengorbit Bumi. Sampai saat ini tidak ada mekanisme yang dapat dilakukan manusia untuk membersihkan sampah antariksa. Satu-satunya yang diharapkan adalah membiarkan alam melakukannya untuk sampah di orbit rendah. Sementara tidak ada satu pun mekanisme untuk sampah di orbit GEO/GSO. Dalam kasus tertentu, ada upaya memulung sampah satelit yang gagal. Tetapi itu hanya dilandasi perhitungan ekonomis untuk mendaur ulang sampah tersebut dengan mengambilnya, memperbaikinya, dan menjualnya. Untuk sampah yang tidak punya nilai ekonomis, mengambilnya dengan pesawat ulang alik adalah upaya yang terlalu mahal untuk dilakukan.

Upaya pembersihan dengan pencegahan pembuangan sampah yang harus dilakukan para perancang wahana antariksa. Sedapat mungkin benda-benda yang akan jadi sampah di buang sebelum mencapai orbit, sehingga langsung jatuh ke bumi. Pencegahan juga dilakukan dengan mengurangi kemungkinan ledakan diangkasa. Selain itu perlu dicari bahan bakar roket yang bebas debu, tidak seperti yang terjadi saat ini yang masih menyisakan debu halus aluminium oksida (Al3O2).

Langkah selanjutnya merancang sistem untuk menjatuhkan sampah antariksa secara terencana atau membuang ke “zona sampah” pada akhir missinya. Tetapi langkah ini sangat mahal dan sangat sulit. Hanya missi antariksa besar yang saat ini sudah menerapkan langkah ini. Misalnya, stasiun antariksa Mir berbobot total 130 ton diturunkan secara terkendali ke daerah aman di Pasifik Selatan. Langkah ini mempunyai dua tujuan sekaligus, menjamin keselamatan penghuni bumi dari bahaya kejatuhan benda antariksa dan menjamin keselamatan wahana antariksa oleh sampah-sampah yang terus meningkat. Prioritas utama langkah ini sebenarnya untuk benda-benda di zona yang ramai diminati para pengguna satelit, baik di orbit rendah maupun GEO/GSO. Langkah untuk membuang ke “zona sampah” terutama ditujukan untuk satelit di GEO/GSO yang dapat dikatakan tidak bisa turun secara alami dan satelit mengandung bahan berbahaya, seperti bahan bakar nuklir. “Zona sampah” di orbit rendah konon pernah digunakan oleh Uni Soviet pada era 1980 – 1990-an untuk membuang satelit berbahan bakar nuklir. Tetapi zona sampah di orbit rendah bukanlah zona aman, suatu saat akan jatuh juga. Zona sampah yang aman berada di atas orbit GEO/GSO. Selama ini yang digunakan pada zona 40 – 70 km lebih tinggi dari zona satelit operasional di GEO/GSO. Tetapi zona yang disarankan adalah sekitar 300 km lebih tinggi. Namun, untuk pembuangan ke zona ini sangat mahal biayanya. Perlu lebih banyak bahan bakar untuk mencapai orbit lebih tinggi itu dan membutuhkan pengendalian sekitar 3 bulan untuk mencapai orbit di zona aman tersebut.

Cara pemulungan sampah antariksa, seperti pada satelit Palapa B2, sangat mahal dan masih perlu menggunakan pesawat berawak sejenis pesawat ulang alik untuk menangkapnya. Sementara cara lain yang diusulkan belum ditemukan teknologinya yang efektif, efisien, dan relatif tidak mahal. Misalnya, dengan balon penjaring untuk pengurangi kecepatannya dan menurunkan sampah ke orbit yang memungkinkan jatuh secara alami. Tetapi cara ini berbahaya bagi satelit operasional, karena penjaringan tidak pilih-pilih, semua yang terkena dipaksa jatuh. Cara lain adalah menembakkan sinar laser berenergi tinggi pada serpihan sampah antariksa untuk mengurangi kecepatannya hingga bisa jatuh atau menghancurkannya menjadi butiran halus yang tidak berbahaya. Namun, cara ini belum ada teknologinya, masih impian yang ingin diwujudkan.

Sampah tidak hanya merepotkan manusia di daratan dan lautan, tapi juga di angkasa. Maklum, kita juga gemar buang sampah di atas sana. Ini karena kita sering mengirimkan pesawat ke ruang angkasa dan membuangnya begitu saja di sana ketika sudah kedaluwarsa. Soalnya, sampah yang bertebaran di angkasa sering berbenturan dengan pesawat berawak atau satelit yang masih digunakan. Berdasar catatan sebuah lembaga penelitian ilmiah Wired Science hingga Senin (27/4), dalam 54 kali misi penerbangan tercatat bahwa sampah antariksa dan meteoroid menabrak jendela pesawat hingga 1.634 kali sehingga mengharuskan 92 kali melakukan penggantian kaca jendela. Begitu juga dengan 317 kali benturan terhadap radiator pesawat yang mengharuskan 53 kali penggantian. Memang, selama ini belum ada benturan yang membahayakan keselamatan awak pesawat. Namun, tingkat keseringan benturan tersebut ditakutkan menimbulkan kerusakan yang lebih besar di masa mendatang karena jumlah sampah antariksa yang diyakini akan bertambah banyak. Para ahli antariksa telah mencari cara mengurangi bahaya sampah antariksa bagi misi penerbangan mereka di masa depan. Salah satu yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sampah tersebut adalah menggunakan sebuah layar besar untuk mengumpulkan sampah-sampah tersebut agar tidak berserakan di udara atau membawanya pulang kembali ke bumi. Atas dasar itu, dua ilmuwan dari lembaga luar angkasa Eropa yakni Max Cerf dan Brice Santerre menghadirkan sebuah layar besar yang diberi nama aerobrake. Benda ini diklaim mampu menyaring dan mengumpulkan sampah-sampah luar angkasa yang mengorbit bumi. Gesekan dari layar besar tersebut dengan lapisan atmosfir akan membakar habis sampah-sampah tersebut hingga 25 tahun. Ini lebih cepat bila dibandingkan umur sampah-sampah tersebut yang dapat mencapai ratusan tahun. Kini layar besar tersebut sedang dalam pengembangan tahap akhir dan akan diluncurkan dalam misi yang bernama Ariane 5. Luas area layar tersebut mencapai 350 meter persegi dan diperkuat dengan 12 meter tiang berbahan polimer dan aluminium berisi gas nitrogen. Namun, yang disayangkan, jumlah sampah antariksa tidak akan berkurang dengan cepat. Ini karena tabrakan antar sampah antariksa akan menimbulkan lebih banyak puing lagi.

Bertambahnya puing dan sampah antariksa, yang beterbangan di antariksa, membuat risiko terjadinya tabrakan di orbit semakin meningkat. Pakar antariksa Inggris menyatakan upaya untuk menghindari puing dan sampah yang memadati antariksa akan menambah biaya peluncuran wahana antariksa pada masa depan.
Studi mereka tentang perjalanan ke antariksa pada masa depan memprediksi bahwa peluang terjadinya tabrakan di orbit akan meningkat hingga 50 persen dalam 10 tahun mendatang dan 250 persen pada 2059 atau lebih dari 50 ribu dalam sepekan. “Sekarang adalah saat untuk bertindak, sebelum situasinya terlampau sulit dikendalikan,” kata Hugh Lewis dari University of Southampton, Inggris, yang mengepalai studi itu. “Jumlah obyek di orbit semakin meningkat dan pasti akan menimbulkan dampak.”

Militer Amerika Serikat menyatakan setiap hari melacak pergerakan 800 satelit untuk memantau kemungkinan terjadinya tumbukan. Pentagon berharap bisa melacak 500 satelit bekas lainnya pada akhir tahun ini. Angkatan Udara Amerika telah meningkatkan kemampuan prediksi terhadap peluang tumbukan di antariksa setelah satelit komunikasi Rusia yang telah mati bertabrakan dengan satelit komersial milik Iridium, Amerika, pada 10 Februari 2009. Peneliti menelaah puing antariksa yang terjadi sejak dimulainya zaman antariksa, ketika Uni Soviet meluncurkan Sputnik 1 pada 1957. Hal ini dilakukan untuk menganalisis bagaimana sampah mulai memadati antariksa sejak saat itu dan apa yang akan terjadi pada masa depan dengan semakin banyaknya peluncuran satelit ke antariksa. Meski peluang terjadinya tabrakan di orbit (close encounter), yang didefinisikan sebagai obyek yang saling berpapasan dalam jarak di bawah 5 kilometer, dipastikan bakal meningkat tajam, Lewis mengatakan pengaruh utama yang harus diperhatikan bukanlah peningkatan tabrakan, melainkan jumlah dan biaya untuk menghindari insiden tersebut. Studi yang dilakukannya memperkirakan bahwa operator satelit harus melakukan sedikitnya lima kali lipat gerakan untuk menghindari tabrakan pada 2059 dibanding 2019. Setiap gerakan itu membutuhkan operasi strategis yang membutuhkan waktu, keahlian, uang, serta membuat biaya perjalanan ke antariksa kian membengkak

Cina telah mendirikan pusat peringatan dini guna melindungi satelit dan pesawat antariksa mahal negeri itu dari puing antariksa yang kian bertambah. “Pusat Penelitian dan Pengamatan Puing dan Sasaran Antariksa” didirikan awal Maret di Pusat Pengamatan Gunung Ungu (PMO), yang terkenal, di kota Nanjing bagian timur negeri itu. Ini akan menjadi sistem peringatan dini bagi bidang antariksa Cina. Pusat Penelitian dan Pengamatan Puing Antariksa tersebut dimaksudkan untuk melindungi pesawat antariksa berawak negeri itu dan satelit besar mahal miliknya. Puing antariksa, yang biasa dikenal sebagai “sampah antariksa”, ialah puing yang ditinggalkan oleh manusia di antariksa, mulai dari satelit yang ditinggalkan dan komponen logam bermacam pesawat antariksa sampai residu dan bubuk yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar padat. Saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 110.000 potong puing antariksa yang tak terlacak dengan diameter lebih dari satu sentimeter di antariksa dan lebih dari 40 juta potong dengan diameter lebih dari satu milimeter. Puing tersebut memiliki bobot 3.000 ton dan jumlahnya meningkat dua sampai lima persen per tahun, yang seperti dikatakan ilmuwan akan menghalangi apa pun yang akan memasuki orbit antariksa sampai 2300

http://mediaanakindonesia.wordpress.com

Selasa, 04 Oktober 2011

Cerita Kentang Busuk

Kisah diawali dari sebuah padepokan Budi Pekerti. Guru Bijaksana menutup pelajaran hari itu dengan sebuah pertanyaan empiris. “Murid-muridku, hidup ini ibarat pelangi. Ibarat permen nano-nano. Ada rasa cinta, ada rasa benci . Nah, siapa yang punya rasa cinta?” Tanya Guru
Bijaksana. Semua murid mengacungkan telunjuk. Beberapa sembari tersipu malu. Guru Bijaksana tersenyum. “Bagus… bagus. Siapa yang punya rasa benci saat ini?”
Tanya Guru lagi. Sepi. Murid- murid saling pandang. Satu demi satu mereka mengangkat telunjuk. “Bagus… bagus. Tidak apa. Itu wajar terjadi pada setiap manusia.” Ujar Guru. Telunjuk
yang teracung semakin banyak. Kalimat Guru Bijaksana yang mendorongnya.“Bagus.
Kejujuran sangat penting, terutama jujur terhadap diri sendiri. Benci, cinta, marah, kesal, semua perlu kita rasakan agar kita bisa memaknai hidup dengan seutuhnya.” Ujar sang Guru.
“Nah, anak-anakku tercinta. Guru ingin kalian mengumpulkan kentang sejumlah orang yang kalian tidak sukai, dalam satu kantong plastik. Bawalah besok. Kentang yang ukuran sedang, ya. Beli juga tak apa.” Para murid saling menatap, heran. Kentang? Untuk apa? “Eng… untuk apa, Guru? Kita hendak demo masak?” celetuk seorang murid. Guru Bijaksana tersenyum menggeleng.
“Kalian akan tahu jawabannya besok. Ingat, kentang sejumlah orang yang
kalian benci , iri, dendam , pokoknya kalian mempunyai perasaan negative pada
mereka.” Murid-murid padepokan Budi Pekerti adalah murid yang patuh, karena guru mereka benar-benar sosok yang bisa “diguru dan ditiru”.
Mengajarkan nilai lewat perbuatan, contoh dan teladan, bukan sekedar
retorika dibalut kemunafikan.
Semua membawa kentang sejumlah orang yang mereka tidak sukai. Ada yang membawa 2 kentang, 5 kentang, bahkan ada yang nampak penuh kantong plastiknya. Berat. Guru Bijaksana tersenyum. Yah, tak ada manusia yang lepas dari perasaan buruk. “Bagus… bagus. Guru akan jelaskan, mengapa kalian harus membawa kentang itu. Kentang itu akan menjadi bagian tak terpisahkan, mulai saat ini. Kalian harus membawanya, kemana pun kalian pergi. Makan, tidur, belajar, bergurau, bahkan ke kamar mandi. Bawalah terus, hingga Guru perintahkan menyudahi.” Mulut murid-murid Padepokan Budi Pekerti serempak membuka.
“Kemana saja? Membawa kentang? Tapi… itu sangat merepotkan, Guru!” seorang murid protes. Kentang yang ia bawa 10 buah, besar-besar lagi. Semula ia ingin pamer, kentangnyalah yang terbanyak dan terbaik. Huuuh, kalau tahu begini… “Anak-anakku, lakukanlah
apa yang Guru perintahkan. Jalani. Nanti, kalian akan lebih mudah menerima pelajaran yang akan Guru sampaikankan, terkait dengan kentang itu.”
“Ya… tapi sampai kapan, Guru?” seorang anak lain terlihat enggan. “Sampai Guru menyuruh berhenti.” Jelas Guru Bijaksana dengan senyum dikulum. Begitulah. Semua murid
melaksanakan perintah Guru Bijaksana. Ada yang patuh dengan sukarela, tetapi
banyak yang bersungut- sungut tak suka. Bagi yang sukarela, tentu saja ia berusaha enteng saja membawa kentang kemana- mana. Bagi yang terpaksa, kentang itu benar-benar merepotkan dan menyebalkan, makin berat saja terasa. Bahkan, menjadi semakin berat karena satu kentang harus dimasukkan lagi. Kentang atas nama kesal terhadap Guru Bijaksana. Hari demi hari lewat. Kentang mulai membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap.
Beberapa murid mulai terpikir untuk membuang saja benda itu, tetapi nasehat dan ilmu sang guru menghalangi niatan tersebut. Beberapa berharap Guru Bijaksana segera menghentikan “penyiksaan”, apalagi saat pelajaran Guru Bijaksana dengan jelas bisa melihat kentang-kentang yang murid-muridnya bawa, dan mulai menebar aroma.
Beberapa hari lewat lagi. Kentang benar-benar telah busuk. Lembek. Bau. Hitam berhias jamur putih. Plastik pembungkusnya telah berganti warna, kecoklatan dengan rembesan air menjijikkan. Murid-murid sudah tidak tahan, terutama yang mempunyai koleksi kentang cukup banyak.
Beberapa bahkan telah membuang kentang-kentang itu, diam-diam. Guru Bijaksana tahu apa yang terjadi, dan menanyakan keadaan kentang-kentang itu
di suatu pagi, saat berlangsung pelajaran budi pekerti. “Anak-anakku, bagaimana kabar kentang kalian?” Tanya Guru ramah.
“Busuk! Bau! Menjijikkan!” teriakan lantang terdengar.
“Merepotkan! Memberatkan!” timpal yang lain. “Sudah saya buang, Guru!
Saya benar-benar tak tahan!” sambung lainnya lagi.
Berbagai komentar negative segera saja memenuhi udara ruang pengajaran. Guru Bijaksana tersenyum, mengangguk-angguk. “Jadi, tak seorang pun menyukai kentang itu?”
Tanya Guru. Semua mengangguk.
“Semua sepakat membuangnya?” kembali Guru Bijaksana bertanya.
Murid-murid sama mengiyakan. Guru Bijaksana pun memerintahkan semua kentang dikumplkan dan dibuang jauh-jauh melewati halaman padepokan. “Nah, anak-anakku. Rasa benci, iri, dengki, dendam dan apa pun perasaan negative kita terhadap orang lain, ibarat kentang tadi. Tak ada manfaat kita dapatkan. Kita merasa sesak, sempit, repot, berat dan terbebani. Semakin banyak orang yang kita tidak sukai, semakin berat beban jiwa kita. Andai kita bisa membuang semua rasa buruk itu, seperti kita membuang kentang-kentang, niscaya hidup kita lebih menyenangkan. Tak ada yang rugi saat kita banyak mengidap perasaan dengki, benci, dendam dll, selain diri kita sendiri. Tak ada yang beruntung saat kita membuang perasaan buruk kita, selain diri kita sendiri. Mulailah
membuang kentang- kentang itu, anakku.” Semua murid terpekur.
Kentang busuk. Perasaan busuk. Buang.

Jumat, 23 September 2011

Batik, the Traditional Fabric of Indonesia

It would be impossible to visit or live in Indonesia and not be exposed to one of the country's most highly developed art forms, batik. On your first visit to a batik store or factory you will undoubtedly experience an overwhelming stimulation of the senses - due to the many colors, patterns and the actual smell of batik. Only through repeated visits and a bit of study will the types of designs and their origins become apparent.

The word batik is thought to be derived from the word 'ambatik' which translated means 'a cloth with little dots'. The suffix 'tik' means little dot, drop, point or to make dots. Batik may also originate from the Javanese word 'tritik' which describes a resist process for dying where the patterns are reserved on the textiles by tying and sewing areas prior to dying, similar to tie dye techniques. Another Javanese phase for the mystical experience of making batik is “mbatik manah” which means “drawing a batik design on the heart”.

A Brief History

Although experts disagree as to the precise origins of batik, samples of dye resistance patterns on cloth can be traced back 1,500 years ago to Egypt and the Middle East. Samples have also been found in Turkey, India, China, Japan and West Africa from past centuries. Although in these countries people were using the technique of dye resisting decoration, within the textile realm, none have developed batik to its present day art form as the highly developed intricate batik found on the island of Java in Indonesia.

King Kertajasa East Java 1294-1309

Although there is mention of 'fabrics highly decorated' in Dutch transcripts from the 17th century, most scholars believe that the intricate Javanese batik designs would only have been possible after the importation of finely woven imported cloth, which was first imported to Indonesia from India around the 1800s and afterwards from Europe beginning in 1815. Textile patterns can be seen on stone statues that are carved on the walls of ancient Javanese temples such as Prambanan (AD 800), however there is no conclusive evidence that the cloth is batik. It could possibly be a pattern that was produced with weaving techniques and not dying. What is clear is that in the 19th century batik became highly developed and was well ingrained in Javanese cultural life.

Some experts feel that batik was originally reserved as an art form for Javanese royalty. Certainly it's royal nature was clear as certain patterns were reserved to be worn only by royalty from the Sultan's palace. Princesses and noble women may have provided the inspiration for the highly refined design sense evident in traditional patterns. It is highly unlikely though that they would be involved in any more than the first wax application. Most likely, the messy work of dyeing and subsequent waxings was left to court artisans who would work under their supervision.

Javanese royalty were known to be great patrons of the arts and provided the support necessary to develop many art forms, such as silver ornamentation, wayang kulit (leather puppets) and gamelan orchestras. In some cases the art forms overlap. The Javanese dalang (puppeteer) not only was responsible for the wayang puppets but was also an important source of batik patterns. Wayang puppets are usually made of goat skin, which is then perforated and painted to create the illusion of clothing on the puppet. Used puppets were often sold to eager ladies who used the puppets as guides for their batik patterns. They would blow charcoal through the holes that define the patterns of clothing on the puppets, in order to copy the intricate designs onto the cloth.

Tambil Miring Design

Other scholars disagree that batik was only reserved as an art form for royalty, as they also feel its use was prevalent with the rakyat, the people. It was regarded an important part of a young ladies accomplishment that she be capable of handling a canting (the pen-like instrument used to apply wax to the cloth) with a reasonable amount of skill, certainly as important as cookery and other housewifery arts to Central Javanese women.

Selection and Preparation of the Cloth for Batik

Natural materials such as cotton or silk are used for the cloth, so that it can absorb the wax that is applied in the dye resisting process. The fabrics must be of a high thread count (densely woven). It is important that cloth of high quality have this high thread count so that the intricate design qualities of batik can be maintained.

Applying wax with a canting to create Batik

The cloth that is used for batik is washed and boiled in water many times prior to the application of wax so that all traces of starches, lime, chalk and other sizing materials are removed. Prior to the implementation of modern day techniques, the cloth would have been pounded with a wooden mallet or ironed to make it smooth and supple so it could best receive the wax design. With the finer machine-made cotton available today, the pounding or ironing processes can be omitted. Normally men did this step in the batik process.

Strict industry standards differentiate the different qualities of the cloth used today, which include Primissima (the best) and Prima. The cloth quality is often written on the edge of the design. A lesser quality cloth which is often used in Blaco.

Batik Design Tools

Although the art form of batik is very intricate, the tools that are used are still very simple. The canting, believed to be a purely Javanese invention, is a small thin wall spouted copper container (sometimes called a wax pen) that is connected to a short bamboo handle. Normally it is approximately 11 cm. in length. The copper container is filled with melted wax and the artisan then uses the canting to draw the design on the cloth.

Canting have different sizes of spouts (numbered to correspond to the size) to achieve varied design effects. The spout can vary from 1 mm in diameter for very fine detailed work to wider spouts used to fill in large design areas. Dots and parallel lines may be drawn with canting that have up to 9 spouts. Sometimes a wad of cotton is fastened over the mouth of the canting or attached to a stick that acts as a brush to fill in very large areas.

Canting, the traditional Indonesian tool that is used to apply wax in fine dots and lines on a cloth. Wherever the wax is applied, the cloth resists the next dye bath that it is put in .. leaving the white dot/line (or another color if the cloth has already been dyed).

Tips of different canting - used to make batik tulis Though the size of most canting are similar .. the difference is in the "tip" that allows the wax to flow from the "bowl". Bigger holes in the tip allow wider lines and bigger dots.
Bowl of the traditional batik canting from Indonesia Looking down on the top of the "bowl" where the wax is held prior to application to the cloth.
Looking at the underside of the batik canting - differnt hole sizes This closeup shows the various sizes of opening holes in the tips.
applying wax dot by dot with a batik canting Each wax dot is applied one by one by the canting.
applying lines and filling in spaces with the canting The canting points to the curvy lines which it created in this finished piece of batik.
making small dots with a canting The canting points to the small dots it created in this finished piece.

Wajan

Wajan is used to melt the wax

The wajan is the container that holds the melted wax. It looks like a small wok. Normally it is made of iron or earthenware. The wajan is placed on a small brick charcoal stove or a spirit burner called an 'anglo'. The wax is kept in a melted state while the artisan is applying the wax to the cloth.

Wax

Different kinds and qualities of wax are used in batik. Common waxes used for batik consist of a mixture of beeswax, used for its malleability, and paraffin, used for its friability. Resins can be added to increase adhesiveness and animal fats create greater liquidity.

Blowing into the Canting keeps the wax flowing freely

The best waxes are from the Indonesian islands of Timor, Sumbawa and Sumatra; three types of petroleum-based paraffin (white, yellow and black) are used. The amounts mixed are measured in grams and vary according to the design. Wax recipes can be very closely guarded secrets. Varying colors of wax make it possible to disguise different parts of the pattern through the various dying stages. Larger areas of the pattern are filled in with wax that is cheaper quality and the higher quality wax is used on the more intricately detailed sections of the design.

The wax must be kept at the proper temperature. A wax that is too cool will clog the spout of the canting. A wax that is too hot will flow too quickly and be uncontrollable. The artisan will often blow into the spout of the canting before applying wax to the cloth in order to clear the canting of any obstructions.

Cap

Cap utilize copper string to make various designs

Creating batik is a very time consuming craft. To meet growing demands and make the fabric more affordable to the masses, in the mid-19th century the . cap. (copper stamp - pronounced chop) was developed. This invention enabled a higher volume of batik production compared to the traditional method which entailed the tedious application of wax by hand with a canting.

Each cap is a copper block that makes up a design unit. Cap are made of 1.5 cm wide copper stripes that are bent into the shape of the design. Smaller pieces of wire are used for the dots. When complete, the pattern of copper strips is attached to the handle.

The cap must be precisely made. This is especially true if the pattern is to be stamped on both sides of the fabric. It is imperative that both sides of the cap are identical so that pattern will be consistent.

Applying wax with cap

Sometimes cap are welded between two grids like pieces of copper that will make a base for the top and the bottom. The block is cut in half at the center so the pattern on each half is identical. Cap vary in size and shape depending on the pattern they are needed for. It is seldom that a cap will exceed 24 cm in diameter, as this would make the handling too difficult.

Men usually handle the application of wax using cap. A piece of cloth that involves a complicated design could require as many as ten sets of cap. The usage of cap, as opposed to canting, to apply the wax has reduced the amount of time to make a cloth.

Today, batik quality is defined by cap or tulis, the second meaning hand-drawn designs which use a canting, or kombinasi, a combination of the two techniques.

Dyes

Traditional colors for Central Javanese batik were made from natural ingredients and consisted primarily of beige, blue, brown and black.

The oldest color that was used in traditional batik making was blue. The color was made from the leaves of the Indigo plant. The leaves were mixed with molasses sugar and lime and left to stand overnight. Sometimes sap from the Tinggi tree was added to act as a fixing agent. Lighter blue was achieved by leaving the cloth in the dye bath for short periods of time. For darker colors, the cloth would be left in the dye bath for days and may have been submerged up to 8 - 10 times a day.

In traditional batik, the second color applied was a brown color called soga. The color could range from light yellow to a dark brown. The dye came from the bark of the Soga tree. Another color that was traditionally used was a dark red color called mengkuda. This dye was created from the leaves of the Morinda Citrifolia.

The final hue depended on how long the cloth was soaked in the dye bath and how often it was dipped. Skilled artisans can create many variations of these traditional colors. Aside from blue, green would be achieved by mixing blue with yellow; purple was obtained by mixing blue and red. The soga brown color mixed with indigo would produce a dark blue-black color.

Design Process

The outline of the pattern is blocked out onto the cloth, traditionally with charcoal or graphite. Traditional batik designs utilize patterns handed down over the generations. It is very seldom that an artisan is so skilled that he can work from memory and would not need to draw an outline of the pattern before applying the wax. Often designs are traced from stencils or patterns called pola. Another method of tracing a pattern onto a cloth is by laying the cloth on a glass table that is illuminated from below which casts a shadow of the pattern onto the cloth. The shadow is then traced with a pencil. In large batik factories today, men usually are in charge of drawing the patterns onto the cloth.

Waxing

Applying wax with a Canting

Once the design is drawn out onto the cloth it is then ready to be waxed. Wax is applied to the cloth over the areas of the design that the artisan wishes to remain the original color of the cloth. Normally this is white or cream.

Female workers sit on a low stool or on a mat to apply the wax with a canting. The fabric that they are working on is draped over light bamboo frames called gawangan to allow the freshly applied wax to cool and harden. The wax is heated in the wajan until it is of the desired consistency. The artisan then dips her canting into the wax to fill the bowl of the canting.

Artisans use the wax to retrace the pencil outline on the fabric. A small drop cloth is kept on the woman. s lap to protect her from hot dripping wax. The stem of the canting is held with the right hand in a horizontal position to prevent any accidental spillage, which greatly reduces the value of the final cloth. The left hand is placed behind the fabric for support. The spout does not touch the fabric, but it held just above the area the artisan is working on. To ensure the pattern is well defined, batik is waxed on both sides. True tulis batik is reversible, as the pattern should be identical on both sides.

The most experienced artisans normally do first waxings. Filling in of large areas may be entrusted to less experienced artisans. Mistakes are very difficult to correct. If wax is accidentally spilt on the cloth, the artisan will try to remove the unwanted wax by sponging it with hot water. Then a heated iron rod with a curved end is used to try and lift off the remaining wax. Spilled wax can never be completely removed so it is imperative that the artisans are very careful.

Applying wax with a copper cap

If the cap method is utilized, this procedure is normally done by men. The cap are dipped into melted wax. Just under the surface of the melted wax is a folded cloth approximately 30 centimeters square. When this cloth is saturated with wax it acts like a stamp pad. The cap is pressed into the fabric until the design side of the cap is coated with wax. The saturated cap is then stamped onto the fabric, leaving the design of the cap. This process is repeated until the entire cloth is covered. Often cap and canting methods are combined on the same piece of cloth.

Better quality batik may be waxed utilizing canting in one part of Indonesia and then sent to another part of Indonesia where the cap part of the process is completed. On better quality cap fabric great care is taken to match the pattern exactly. Lower grade batik is characterized by overlapping lines or lightened colored lines indicating the cap was not applied correctly.

Dyeing

After the initial wax has been applied, the fabric is ready for the first dye bath. Traditionally dying was done in earthenware tubs. Today most batik factories use large concrete vats. Above the vats are ropes with pulleys that the fabric is draped over after it has been dipped into the dye bath.

The waxed fabric is immersed in the dye bath of the first color. The amount of time it is left in the bath determines the hue of the color; darker colors require longer periods or numerous immersions. The fabric is then put into a cold water bath to harden the wax.

Dye Bath

When the desired color has been achieved and the fabric has dried, wax is reapplied over the areas that the artisan wishes to maintain the first dye color or another color at a later stage in the dying process.

When an area that has been covered with wax previously needs to be exposed so that it can be dyed, the applied wax is scraped away with a small knife. The area is then sponged with hot water and resized with rice starch before it is re-immersed in the subsequent dye bath.

If a marble effect is desired, the wax is intentionally cracked before being placed in the dye bath. The dye seeps into the tiny cracks that create the fine lines that are characteristic of batik. Traditionally, cracks were a sign of inferior cloth especially on indigo color batik. On brown batik, however, the marble effect was accepted.

The number of colors in batik represents how many times it was immersed in the dye bath and how many times wax had to be applied and removed. A multicolored batik represents a lot more work that a single or two-color piece. Numerous dye processes are usually reflected in the price of the cloth. Nowadays, chemical dyes have pretty much replaced traditional dyes, so colors are endless and much more liberally used.

Special Treatments to the Batik Cloth

Prada or Gold Cloth

For special occasions, batik was formerly decorated with gold lead or gold dust. This cloth is known as Prada cloth. Gold leaf was used in the Jogjakarta and Surakarta area. The Central Javanese used gold dust to decorate their Prada cloth. It was applied to the fabric using a handmade glue consisting of egg white or linseed oil and yellow earth. The gold would remain on the cloth even after it had been washed. The gold could follow the design of the cloth or could take on its own design. Older batiks could be given a new look by applying gold to them. Gold decorated cloth is still made today; however, gold paint has replaced gold dust and leaf.

Batik Designs

Although there are thousands of different batik designs, particular designs have traditionally been associated with traditional festivals and specific religious ceremonies. Previously, it was thought that certain cloth had mystical powers to ward off ill fortune, while other pieces could bring good luck.

Wedding Batik

Certain batik designs are reserved for brides and bridegrooms as well as their families. Other designs are reserved for the Sultan and his family or their attendants. A person's rank could be determined by the pattern of the batik he/she wore.

In general, there are two categories of batik design: geometric motifs (which tend to be the earlier designs) and free form designs, which are based on stylized patterns of natural forms or imitations of a woven texture. Nitik is the most famous design illustrating this effect.

Certain areas are known for a predominance of certain designs. Central Javanese designs are influenced by traditional patterns and colors. Batik from the north coast of Java, near Pekalongan and Cirebon, have been greatly influenced by Chinese culture and effect brighter colors and more intricate flower and cloud designs.

High fashion designs drawn on silk are very popular with wealthy Indonesians. These exceptionally high-quality pieces can take months to create and costs hundreds of dollars.

Kawung

Kawung Design

Kawung is another very old design consisting of intersecting circles, known in Java since at least the thirteenth century. This design has appeared carved into the walls of many temples throughout Java such as Prambanan near Jogjakarta and Kediri in East Java. For many years, this pattern was reserved for the royal court of the Sultan of Jogjakarta. The circles are sometimes embellished inside with two or more small crosses or other ornaments such as intersecting lines or dots. It has been suggested that the ovals might represent flora such as the fruit of the kapok (silk cotton) tree or the aren (sugar palm).

Ceplok

Ceplok Design

Ceplok is a general name for a whole series of geometric designs based on squares, rhombs, circles, stars, etc. Although fundamentally geometric, ceplok can also represent abstractions and stylization of flowers, buds, seeds and even animals. Variations in color intensity can create illusions of depth and the overall effect is not unlike medallion patterns seen on Turkish tribal rugs. The Indonesian population is largely Muslim, a religion that forbids the portrayal of animal and human forms in a realistic manner. To get around this prohibition, the batik worker does not attempt to express this matter in a realistic form. A single element of the form is chosen and then that element is repeated again and again in the pattern.

Parang

Parang Design

Parang was once used exclusively by the royal courts of Central Java. It has several suggested meanings such as 'rugged rock', 'knife pattern' or 'broken blade'. The Parang design consists of slanting rows of thick knife-like segments running in parallel diagonal bands. Parang usually alternated with narrower bands in a darker contrasting color. These darker bands contain another design element, a line of lozenge-shaped motifs call mlinjon. There are many variations of this basic striped pattern with its elegant sweeping lines, with over forty parang designs recorded. The most famous is the 'Parang Rusak' which in its most classical form consisting of rows of softly folded parang. This motif also appears in media other than batik, including woodcarving and as ornamentation on gamelan musical instruments.

Washing Batik

Harsh chemical detergents, dryers and drying of fabrics in the sun may fade the colors in batik. Traditionally dyed batiks should be washed in soap for sensitive fabrics, such as Woolite, Silky or Halus. Fine batik in Indonesia is washed with the lerak fruit which can be purchased at most traditional markets. A bottled version of this detergent is also available at batik stores. Be sure to line dry batik in a shady area and not in direct sunlight.

Modern Batik

Modern batik, although having strong ties to traditional batik, utilizes linear treatment of leaves, flowers and birds. These batiks tend to be more dependent on the dictates of the designer rather than the stiff guidelines that have guided traditional craftsmen. This is also apparent in the use of color that modern designers use. Artisans are no longer dependent on traditional (natural) dyes, as chemical dyes can produce any color that they wish to achieve. Modern batik still utilizes canting and cap to create intricate designs.

Modern Batik

Fashion designers such as Iwan Tirta have aggressively introduced batik into the world fashion scene. They have done much to promote the Indonesian art of batik dress, in its traditional and modern forms.

The horizon of batik is continuing to widen. While the design process has remained basically the same over the last century, the process shows great progress in recent decades. Traditionally, batik was sold in 2 1/4 meter lengths used for kain panjang or sarong in traditional dress. Now, not only is batik used as a material to clothe the human body, its uses also include furnishing fabrics, heavy canvas wall hangings, tablecloths and household accessories. Batik techniques are used by famous artists to create batik paintings which grace many homes and offices.

Modern Batik

Fine quality handmade batik is very expensive and the production of such works is very limited. However, in a world that is dominated by machines there is an increasing interest in materials that have been handmade. Batik is one of these materials.

During your stay in Indonesia, take advantage of your time here to learn more about the fascinating world of batik. Have a batik dress or men's business shirt made for you by a seamstress or tailor. Visit batik factories in Jogjakarta, Surakarta or Pekalongan to see for yourself how the intricate process is conducted or ask questions of batik artisans giving demonstrations in stores such as Sarinah or Pasaraya in Jakarta. You will come away with sense of wonder over the time, effort and patience put into the creation of each batik cloth. You too may soon grow to love the distinctive waxy smell of batik and your batik acquisitions will provide many memories of your stay in Indonesia. Your support of the batik industry will also ensure that this art form grows to even greater peaks.

Batik Home Furnishings

One of the distinct pleasures of living in (or visiting) Indonesia is the opportunity to purchase some truly magnificent home furnishings made of batik. As the fabric is truly unique to Indonesia... this is definitely the best place to purchase batik! Batik factories can product batik to your order, with custom colors and designs in large rolls, ready to use for your home decoration projects. The 100% cotton fabric is usually preshrunk in the batik dying process and other fabrics are usually available with the batik design, should your design requirements warrant. Higher end shops also have design consultants who can help you with the layout of the room you are planning to design with your batik fabric and work with you on additional furnishings (pillows, bed covers, and cushions) to complete your color scheme.


The Step by Step Process of Making Batik

Step One in the batik making process

Step 1

The first wax is applied over the penciled-in outline of the pattern. Almost always the original cloth is white or beige.

Step 2 in the batik making process

Step 2

The cloth is dyed in the first dye bath. In this case the first dyebath is indigo blue. The area of the cloth where the wax was applied in Step 1 will remain white.

Step 3 in the batik making process

Step 3

Second application of wax is applied. In this case it is a dark brown color. A poorer quality of wax is used to cover larger areas of cloth. The darker color helps to differentiate it from the first wax applied. Any parts that are covered with this wax application will remain the indigo color.

Step 4 in the batik making process

Step 4

The cloth is dyed in the second dye bath. In this case it is a navy blue. Any areas that are not covered by wax will become dark blue.

Step 5 in the batik making process

Step 5

All the wax that has been applied thus far is removed. This is done by heating the wax and scraping it off and also by applying hot water and sponging off the remaining wax.

Step 6 in the batik making process

Step 6

Wax is applied to the area of the fabric that the artist wishes to remain the indigo blue color.

Step 7 in the batik making process

Step 7

Wax is applied to the area of the fabric that the artist wishes to remain white.

Step 8 in the batik making process

Step 8

The fabric is submerged in the final dye bath. In this case it is brown. Any areas of the cloth that have not been covered with wax will become brown.

Step 9 in the batik making process

Step 9

The finished cloth after all of the wax has been removed.







http://www.expat.or.id