"ummmh..." Emoticon

Selasa, 04 Oktober 2011

Cerita Kentang Busuk

Kisah diawali dari sebuah padepokan Budi Pekerti. Guru Bijaksana menutup pelajaran hari itu dengan sebuah pertanyaan empiris. “Murid-muridku, hidup ini ibarat pelangi. Ibarat permen nano-nano. Ada rasa cinta, ada rasa benci . Nah, siapa yang punya rasa cinta?” Tanya Guru
Bijaksana. Semua murid mengacungkan telunjuk. Beberapa sembari tersipu malu. Guru Bijaksana tersenyum. “Bagus… bagus. Siapa yang punya rasa benci saat ini?”
Tanya Guru lagi. Sepi. Murid- murid saling pandang. Satu demi satu mereka mengangkat telunjuk. “Bagus… bagus. Tidak apa. Itu wajar terjadi pada setiap manusia.” Ujar Guru. Telunjuk
yang teracung semakin banyak. Kalimat Guru Bijaksana yang mendorongnya.“Bagus.
Kejujuran sangat penting, terutama jujur terhadap diri sendiri. Benci, cinta, marah, kesal, semua perlu kita rasakan agar kita bisa memaknai hidup dengan seutuhnya.” Ujar sang Guru.
“Nah, anak-anakku tercinta. Guru ingin kalian mengumpulkan kentang sejumlah orang yang kalian tidak sukai, dalam satu kantong plastik. Bawalah besok. Kentang yang ukuran sedang, ya. Beli juga tak apa.” Para murid saling menatap, heran. Kentang? Untuk apa? “Eng… untuk apa, Guru? Kita hendak demo masak?” celetuk seorang murid. Guru Bijaksana tersenyum menggeleng.
“Kalian akan tahu jawabannya besok. Ingat, kentang sejumlah orang yang
kalian benci , iri, dendam , pokoknya kalian mempunyai perasaan negative pada
mereka.” Murid-murid padepokan Budi Pekerti adalah murid yang patuh, karena guru mereka benar-benar sosok yang bisa “diguru dan ditiru”.
Mengajarkan nilai lewat perbuatan, contoh dan teladan, bukan sekedar
retorika dibalut kemunafikan.
Semua membawa kentang sejumlah orang yang mereka tidak sukai. Ada yang membawa 2 kentang, 5 kentang, bahkan ada yang nampak penuh kantong plastiknya. Berat. Guru Bijaksana tersenyum. Yah, tak ada manusia yang lepas dari perasaan buruk. “Bagus… bagus. Guru akan jelaskan, mengapa kalian harus membawa kentang itu. Kentang itu akan menjadi bagian tak terpisahkan, mulai saat ini. Kalian harus membawanya, kemana pun kalian pergi. Makan, tidur, belajar, bergurau, bahkan ke kamar mandi. Bawalah terus, hingga Guru perintahkan menyudahi.” Mulut murid-murid Padepokan Budi Pekerti serempak membuka.
“Kemana saja? Membawa kentang? Tapi… itu sangat merepotkan, Guru!” seorang murid protes. Kentang yang ia bawa 10 buah, besar-besar lagi. Semula ia ingin pamer, kentangnyalah yang terbanyak dan terbaik. Huuuh, kalau tahu begini… “Anak-anakku, lakukanlah
apa yang Guru perintahkan. Jalani. Nanti, kalian akan lebih mudah menerima pelajaran yang akan Guru sampaikankan, terkait dengan kentang itu.”
“Ya… tapi sampai kapan, Guru?” seorang anak lain terlihat enggan. “Sampai Guru menyuruh berhenti.” Jelas Guru Bijaksana dengan senyum dikulum. Begitulah. Semua murid
melaksanakan perintah Guru Bijaksana. Ada yang patuh dengan sukarela, tetapi
banyak yang bersungut- sungut tak suka. Bagi yang sukarela, tentu saja ia berusaha enteng saja membawa kentang kemana- mana. Bagi yang terpaksa, kentang itu benar-benar merepotkan dan menyebalkan, makin berat saja terasa. Bahkan, menjadi semakin berat karena satu kentang harus dimasukkan lagi. Kentang atas nama kesal terhadap Guru Bijaksana. Hari demi hari lewat. Kentang mulai membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap.
Beberapa murid mulai terpikir untuk membuang saja benda itu, tetapi nasehat dan ilmu sang guru menghalangi niatan tersebut. Beberapa berharap Guru Bijaksana segera menghentikan “penyiksaan”, apalagi saat pelajaran Guru Bijaksana dengan jelas bisa melihat kentang-kentang yang murid-muridnya bawa, dan mulai menebar aroma.
Beberapa hari lewat lagi. Kentang benar-benar telah busuk. Lembek. Bau. Hitam berhias jamur putih. Plastik pembungkusnya telah berganti warna, kecoklatan dengan rembesan air menjijikkan. Murid-murid sudah tidak tahan, terutama yang mempunyai koleksi kentang cukup banyak.
Beberapa bahkan telah membuang kentang-kentang itu, diam-diam. Guru Bijaksana tahu apa yang terjadi, dan menanyakan keadaan kentang-kentang itu
di suatu pagi, saat berlangsung pelajaran budi pekerti. “Anak-anakku, bagaimana kabar kentang kalian?” Tanya Guru ramah.
“Busuk! Bau! Menjijikkan!” teriakan lantang terdengar.
“Merepotkan! Memberatkan!” timpal yang lain. “Sudah saya buang, Guru!
Saya benar-benar tak tahan!” sambung lainnya lagi.
Berbagai komentar negative segera saja memenuhi udara ruang pengajaran. Guru Bijaksana tersenyum, mengangguk-angguk. “Jadi, tak seorang pun menyukai kentang itu?”
Tanya Guru. Semua mengangguk.
“Semua sepakat membuangnya?” kembali Guru Bijaksana bertanya.
Murid-murid sama mengiyakan. Guru Bijaksana pun memerintahkan semua kentang dikumplkan dan dibuang jauh-jauh melewati halaman padepokan. “Nah, anak-anakku. Rasa benci, iri, dengki, dendam dan apa pun perasaan negative kita terhadap orang lain, ibarat kentang tadi. Tak ada manfaat kita dapatkan. Kita merasa sesak, sempit, repot, berat dan terbebani. Semakin banyak orang yang kita tidak sukai, semakin berat beban jiwa kita. Andai kita bisa membuang semua rasa buruk itu, seperti kita membuang kentang-kentang, niscaya hidup kita lebih menyenangkan. Tak ada yang rugi saat kita banyak mengidap perasaan dengki, benci, dendam dll, selain diri kita sendiri. Tak ada yang beruntung saat kita membuang perasaan buruk kita, selain diri kita sendiri. Mulailah
membuang kentang- kentang itu, anakku.” Semua murid terpekur.
Kentang busuk. Perasaan busuk. Buang.